kadang diri ini terlupa bercermin
lupa
lupa
lupa
hidup aku bukan utopia
utopia
utopia
utopia
tolong lepaskan aku daripada sengsara ini
sengsara
sengsara
sengsara
ada manusia mengata diri
mengata
mengata
mengata
mungkin mereka juga terlupa cermin diri
diri
diri
diri
*tuju khas buat mereka yang sempurna diri
ashraf adrutdin
13 jumaat bulan januari 2012
al-wadud, subang intan
Memaparkan catatan dengan label Sajak. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sajak. Papar semua catatan
Jumaat, 13 Januari 2012
lima minit
kau melirikku
dari ekor matamu
menembusi tudung putihmu
seputih hatimu
apa yang bergentayangan di dada dan fikiranmu sayang?
kau tampak begitu mulia
dan lembut
lantas kau menggosok matamu
mungkin habuk atau angin rindu menghembusnya
lalu titisan itu mengalir perlahan
secara tiba
deringan telefon bimbitmu berdering
memecah kesepian hati
dan barang yang kau pesan sudah kau bayari
dan akhirnya
kau berlalu begitu sahaja
itulah 5 minit detik cinta paling singkat
seumur hidupku
kau datang dan pergi
begitu saja
*maafkan aku karena terpaksa menulis semula setelah sajak terakhir kelmarin aku tuliskan.
jiwa ini jiwa menulis, cinta ini bukan sekadar lima minit, tapi ke akhir hayat. tak perlulah engkau membunuhku secara perlahan lahan..
ashraf adrutdin
13 januari 2012 jumaat (tapi sajak ni kelmarin tulis)
al-wadud, subang intan
dari ekor matamu
menembusi tudung putihmu
seputih hatimu
apa yang bergentayangan di dada dan fikiranmu sayang?
kau tampak begitu mulia
dan lembut
lantas kau menggosok matamu
mungkin habuk atau angin rindu menghembusnya
lalu titisan itu mengalir perlahan
secara tiba
deringan telefon bimbitmu berdering
memecah kesepian hati
dan barang yang kau pesan sudah kau bayari
dan akhirnya
kau berlalu begitu sahaja
itulah 5 minit detik cinta paling singkat
seumur hidupku
kau datang dan pergi
begitu saja
*maafkan aku karena terpaksa menulis semula setelah sajak terakhir kelmarin aku tuliskan.
jiwa ini jiwa menulis, cinta ini bukan sekadar lima minit, tapi ke akhir hayat. tak perlulah engkau membunuhku secara perlahan lahan..
ashraf adrutdin
13 januari 2012 jumaat (tapi sajak ni kelmarin tulis)
al-wadud, subang intan
Selasa, 3 Januari 2012
sebuah puisi terakhir
sebuah puisi terakhir
ini lah dia sajak ku yang terakhir,
menamatkan riwayat ku yang semakin sepi, sepi, sepi, sepi,
ku kira, tiada siapa lagi yang membaca coretan, warkah, nukilan cinta ini lagi,
sementelah diriku dihinggapi pilu,
bara cinta ku hancur menjadi abu,
maka apalagi yang harus aku ucapkan pada cinta.
maka di sinilah segalanya akan berakhir,
aku kesal, kesal, kesal, kesal,
kerana kesilapan ku yang berat,
segalanya musnah,
kerjayaku, cintaku, sasteraku, harapan masa hadapan keluarga yang selalu kuidam-idamkan,
maka tiadalah lagi nukilan buatmu kasih, anak-anak, dan masa depan as-kunu,
karena inilah yang terakhir,
sementelah segala yang ku lakukan tiada yang kena pada mata si polan dan si polan,
makanya, biarlah ini jadi puisi terakhirku.
biarlah ia mati bersama harapan ku yang menggunung,
biarlah ia menjadi lipatan sejarah sahaja,
di sini menjadi saksi jatuh bangun hidupku,
sebagai pecinta yang sepi, sepi, sepi, sepi.
Kepada mantan kekasihku,
aku sedar aku melukakan hatimu saat aku mengundurkan diri dari dirimu,
tetapi aku lakukan kerana hati yang ikhlas karena Al-Wali,
setelah tahajud dan istiharah 3 malam berturut,
aku menanti cinta yang datang dari insan lain,
ku kira ia jalan terakhir buat diriku,
rupa-rupanya ia tak semudah itu.
Kepada cinta baru yang baru mula berputik namun tak sempat kembangnya bunga cintamu lalu gugur ke bumi,
maafkan aku karena terburu untuk memilikimu,
aku sedar ketidakmatangan diriku menjerat diriku sendiri setelah engkau pergi tanpa pesan,
tanpa pesan, tanpa pesan, tanpa pesan, tanpa pesan,
yang tinggal hanya kenangan manis berjumpa ayah dan mamamu.
Aku sedar inilah balasan buat diriku yang sering menghancurkan jiwa insan lain,
aku sedar aku difitnah, dicaci, dimaki, dihina,
karena tindakan jujurku mencari cinta yang lain rupa-rupanya suatu tabu bagi mereka yang tidak memahami apa itu pencarian cinta,
ku sangkakan ianya suatu dogma yang menguatkan jati diriku, lalu aku menadah tangan meminta bantuanNya,
"Ya Al-Wali, kau lah Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang,
dan Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam itu pesuruhMu,
ampunilah dosa ibu dan ayahku - kasihanilah mereka yang mengasihiku ketika aku masih kecil Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku, yang banyak melakukan dosa kepadaMu,
yang hanya mencariMu saat aku genting dan susah,
dan meninggalkanMu saat aku gembira,
ampunkanlah segala kemaksiatan yang pernah aku lakukan dahulu bersama orang-orang yang aku sayangi,
berikanlah keberkatan dan rahmat buat diri kami Ya Allah!
Panjangkan umurku dengan kesihatan yang baik, murahkanlah rezekiku dengan rezeki yang halal dan berkat,
tunjukkanlah aku jalanMu yang lurus, jalan yang Engkau redhai.
Ya Allah, seandainya pilihan ku dalam mencari jodoh pada dia merupakan suatu kesilapan,
tunjukkanlah aku kesilapanku, jauhkanlah hati kami, lupakanlah cinta antara kami Ya Allah,
seandainya pilihanku ini yang terbaik untuk semua pihak dan juga bagi dirinya dan diriku,
tunjukkanlah aku, bimbinglah aku ke jalan lurusMu, agar kami bersatu menjadi pasangan yang halal hingga ke akhirat, ke akhir hayat.
Pada Engkau Ya Allah, aku mohon yang terbaik buat diriku, dan orang-orang yang aku sayangi dan juga keluarga mereka,
Aku sedar, aku tidak mampu memuaskan hati dan perasaan semua pihak,
Aku cuba yang terbaik ya Allah,
Bukan kebencian yang aku cari ya Allah,
Ya Allah, aku bertawakkal kepada engkau akan jodoh ajal dan mautku,
Aku redha akan qada' dan qadarMu Ya Allah,
Seandainya aku memberi kejahatan pada wanita yang aku sayangi, kau kuncilah nafsuku ya Allah,
Itulah yang terbaik buatku ya Allah.
Dan aku sebut namamu dalam tiap doaku,
Aku menunggu andai pintu itu masih terbuka,
Ah! Aku sudah tak daya lagi Ya Allah, aku bertawakkal pada Engkau Ya Allah,
Siapa jua jodohku, aku terima dengan hati yang terbuka Ya Allah,
Aku dambakan keluarga yang bahagia dunia akhirat,
Aku sedar, lidah mana yang tidak pernah tergigit,
lantas aku mengharapkan kesabaran dariMu Ya Allah.
Ini sajak ku yang terakhir,
buatku, buatmu, buat dia, dan as-kunu,
malah sesiapa sahaja yang pernah membaca, mengkritik, membenci, menyintai karya-karyaku ini,
kalian tahu siapa kalian!
Makanya, izinkan aku mengundurkan diri sayang,
yang tinggal hanya secebis puisi ini,
bagi yang pernah memfitnah diriku, aku maafkan kamu,
bagi yang pernah bermusuh denganku, maafkan la daku,
aku tiada niat memasang api pada sumbu kemarahanmu andai aku menyakiti sahabatmu,
Buat kawan-kawan sepejabat yang sering menasihati diri ini, terima kasih sebab banyak menyedarkan diriku siapa diri ini sebenar,
Buat kawan serumah, maafkan diri andai aku menyakitimu,
buat keluarga di sana, aku sayangkan kalian selalu walau aku jarang pulang ke kampung,
buat atukku yang selalu sakit-sakit, maafkan aku andai cucumu jarang menelefonmu,
biar aku bawa diri ini yang lara.
Maafkan segala ketidakmatanganku ini yang menjengkelkan kalian,
aku hanya ingin menumpang kasih dan manja sementelah ibu dan ayahku telah tiada di sisi,
Ah, terlalu banyak yang aku tulis,
aku khuatir akan menjengelkan kalian membacanya,
aku berharap sinar 2012 membawa diriku ke tahap yang lebih baik.
Oh ya, kepada wanita-wanita yang pernah aku dampingi,
maafkan segala kenakalanku selama ini,
aku hanya menumpang bahagia bagi meghilangkan tekanan yang aku alami sehari-hari,
maafkan andai aku hipokrit dalam hidupku selama ini.
Selamat tinggal dunia puisiku,
selamat tinggal cinta yang telah berlalu,
izinkan aku pergi membawa diri bersama hati yang luka berdarah yang sukar ku sembuhi sendiri,
aku enggan lagi melayan diri ini yang terlalu lama manja dengan cinta yang aku sendiri tak tahu apa dan di mana hujung pangkalnya.
10 januari, hari lahirku yang ke 26,
Umur semakin bertambah ku berharap ia seiring dengan kematangaku dalam cinta,
buat teman yang berkahwin, tahniah kerana pencarian cinta kalian berjaya ke kemuncaknya,
doakan aku jua.
Selamat tinggal. Assalamualaikum.
ashraf adrutdin,
2.13 pagi selasa,
3 januari 2012,
pangsapuri flora 1.
ini lah dia sajak ku yang terakhir,
menamatkan riwayat ku yang semakin sepi, sepi, sepi, sepi,
ku kira, tiada siapa lagi yang membaca coretan, warkah, nukilan cinta ini lagi,
sementelah diriku dihinggapi pilu,
bara cinta ku hancur menjadi abu,
maka apalagi yang harus aku ucapkan pada cinta.
maka di sinilah segalanya akan berakhir,
aku kesal, kesal, kesal, kesal,
kerana kesilapan ku yang berat,
segalanya musnah,
kerjayaku, cintaku, sasteraku, harapan masa hadapan keluarga yang selalu kuidam-idamkan,
maka tiadalah lagi nukilan buatmu kasih, anak-anak, dan masa depan as-kunu,
karena inilah yang terakhir,
sementelah segala yang ku lakukan tiada yang kena pada mata si polan dan si polan,
makanya, biarlah ini jadi puisi terakhirku.
biarlah ia mati bersama harapan ku yang menggunung,
biarlah ia menjadi lipatan sejarah sahaja,
di sini menjadi saksi jatuh bangun hidupku,
sebagai pecinta yang sepi, sepi, sepi, sepi.
Kepada mantan kekasihku,
aku sedar aku melukakan hatimu saat aku mengundurkan diri dari dirimu,
tetapi aku lakukan kerana hati yang ikhlas karena Al-Wali,
setelah tahajud dan istiharah 3 malam berturut,
aku menanti cinta yang datang dari insan lain,
ku kira ia jalan terakhir buat diriku,
rupa-rupanya ia tak semudah itu.
Kepada cinta baru yang baru mula berputik namun tak sempat kembangnya bunga cintamu lalu gugur ke bumi,
maafkan aku karena terburu untuk memilikimu,
aku sedar ketidakmatangan diriku menjerat diriku sendiri setelah engkau pergi tanpa pesan,
tanpa pesan, tanpa pesan, tanpa pesan, tanpa pesan,
yang tinggal hanya kenangan manis berjumpa ayah dan mamamu.
Aku sedar inilah balasan buat diriku yang sering menghancurkan jiwa insan lain,
aku sedar aku difitnah, dicaci, dimaki, dihina,
karena tindakan jujurku mencari cinta yang lain rupa-rupanya suatu tabu bagi mereka yang tidak memahami apa itu pencarian cinta,
ku sangkakan ianya suatu dogma yang menguatkan jati diriku, lalu aku menadah tangan meminta bantuanNya,
"Ya Al-Wali, kau lah Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang,
dan Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam itu pesuruhMu,
ampunilah dosa ibu dan ayahku - kasihanilah mereka yang mengasihiku ketika aku masih kecil Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku, yang banyak melakukan dosa kepadaMu,
yang hanya mencariMu saat aku genting dan susah,
dan meninggalkanMu saat aku gembira,
ampunkanlah segala kemaksiatan yang pernah aku lakukan dahulu bersama orang-orang yang aku sayangi,
berikanlah keberkatan dan rahmat buat diri kami Ya Allah!
Panjangkan umurku dengan kesihatan yang baik, murahkanlah rezekiku dengan rezeki yang halal dan berkat,
tunjukkanlah aku jalanMu yang lurus, jalan yang Engkau redhai.
Ya Allah, seandainya pilihan ku dalam mencari jodoh pada dia merupakan suatu kesilapan,
tunjukkanlah aku kesilapanku, jauhkanlah hati kami, lupakanlah cinta antara kami Ya Allah,
seandainya pilihanku ini yang terbaik untuk semua pihak dan juga bagi dirinya dan diriku,
tunjukkanlah aku, bimbinglah aku ke jalan lurusMu, agar kami bersatu menjadi pasangan yang halal hingga ke akhirat, ke akhir hayat.
Pada Engkau Ya Allah, aku mohon yang terbaik buat diriku, dan orang-orang yang aku sayangi dan juga keluarga mereka,
Aku sedar, aku tidak mampu memuaskan hati dan perasaan semua pihak,
Aku cuba yang terbaik ya Allah,
Bukan kebencian yang aku cari ya Allah,
Ya Allah, aku bertawakkal kepada engkau akan jodoh ajal dan mautku,
Aku redha akan qada' dan qadarMu Ya Allah,
Seandainya aku memberi kejahatan pada wanita yang aku sayangi, kau kuncilah nafsuku ya Allah,
Itulah yang terbaik buatku ya Allah.
Dan aku sebut namamu dalam tiap doaku,
Aku menunggu andai pintu itu masih terbuka,
Ah! Aku sudah tak daya lagi Ya Allah, aku bertawakkal pada Engkau Ya Allah,
Siapa jua jodohku, aku terima dengan hati yang terbuka Ya Allah,
Aku dambakan keluarga yang bahagia dunia akhirat,
Aku sedar, lidah mana yang tidak pernah tergigit,
lantas aku mengharapkan kesabaran dariMu Ya Allah.
Ini sajak ku yang terakhir,
buatku, buatmu, buat dia, dan as-kunu,
malah sesiapa sahaja yang pernah membaca, mengkritik, membenci, menyintai karya-karyaku ini,
kalian tahu siapa kalian!
Makanya, izinkan aku mengundurkan diri sayang,
yang tinggal hanya secebis puisi ini,
bagi yang pernah memfitnah diriku, aku maafkan kamu,
bagi yang pernah bermusuh denganku, maafkan la daku,
aku tiada niat memasang api pada sumbu kemarahanmu andai aku menyakiti sahabatmu,
Buat kawan-kawan sepejabat yang sering menasihati diri ini, terima kasih sebab banyak menyedarkan diriku siapa diri ini sebenar,
Buat kawan serumah, maafkan diri andai aku menyakitimu,
buat keluarga di sana, aku sayangkan kalian selalu walau aku jarang pulang ke kampung,
buat atukku yang selalu sakit-sakit, maafkan aku andai cucumu jarang menelefonmu,
biar aku bawa diri ini yang lara.
Maafkan segala ketidakmatanganku ini yang menjengkelkan kalian,
aku hanya ingin menumpang kasih dan manja sementelah ibu dan ayahku telah tiada di sisi,
Ah, terlalu banyak yang aku tulis,
aku khuatir akan menjengelkan kalian membacanya,
aku berharap sinar 2012 membawa diriku ke tahap yang lebih baik.
Oh ya, kepada wanita-wanita yang pernah aku dampingi,
maafkan segala kenakalanku selama ini,
aku hanya menumpang bahagia bagi meghilangkan tekanan yang aku alami sehari-hari,
maafkan andai aku hipokrit dalam hidupku selama ini.
Selamat tinggal dunia puisiku,
selamat tinggal cinta yang telah berlalu,
izinkan aku pergi membawa diri bersama hati yang luka berdarah yang sukar ku sembuhi sendiri,
aku enggan lagi melayan diri ini yang terlalu lama manja dengan cinta yang aku sendiri tak tahu apa dan di mana hujung pangkalnya.
10 januari, hari lahirku yang ke 26,
Umur semakin bertambah ku berharap ia seiring dengan kematangaku dalam cinta,
buat teman yang berkahwin, tahniah kerana pencarian cinta kalian berjaya ke kemuncaknya,
doakan aku jua.
Selamat tinggal. Assalamualaikum.
ashraf adrutdin,
2.13 pagi selasa,
3 januari 2012,
pangsapuri flora 1.
Jumaat, 23 Disember 2011
semalam | janji
semalam - seandainya tiada semalam,
di mana aku melalui hidup di antara tujuh petala langit dan bumi Al-Wali ini?,
seandainya aku telah pergi menghadap sang pencipta alam,
bagaimana bisa aku mewarkah karya ini?
awak berjanji dengan saya untuk menunaikan solat berjemaah, - mana janji-janji awak?
awak berjanji mengajarkan saya bacaan al-quran dan bersama - sama memahami isi ertinya kalam Allah itu, - mana janji-janji awak?
awak berjanji mendidik dan membimbing saya menjadi isteri solehah, dan juga pada anak-anak,- mana janji-janji awak?
air hujan menitis membasahi pusaraku yang kegersangan..hatiku terpaut pada keindahan berbumbungkan langit dan liang lahad,
kembalilah ke fitrah manusiawi,
laksanakan perintahNya dengan penuh keimanan di jiwa, bukan hanya di raut wajah,
karena keikhlasan tidak dibaca pada putihnya wajahmu, tetapi bersihnya hati yang disinari ilmu dan amalan muliamu disisi Al-Wali,
ku tinggalkan kau dengan ilmu agama yang cukup,
agar kau dapat menongkah arus berseorangan tanpaku,
sia-sia Allah pulangkan nyawa kau tika subuh menjelang, kau masih dilitupi kulit babi pendinding kesejukan pagi.
Lalu si suami berkata di dada langit: "seandainya kau mengintai langit,
jangan lupa melambai pada rembulan,
agar kerinduanmu sampai padaku sampai menusuk jiwaku,
karena kita mengintai cinta yang sama,
pada bintang, kilauan cahayamu itu ku pinjam untuk menyinari hidupmu,
dari pilu,
sampaikan sayangmu pada mentari,
agar esok hari ku bangun,
ku titip cahayanya untuk sinari hari ku yang kelam tanpamu di sisi,
aku rindu pada ke[ayu]anmu..
Si isteri lalu menjawab,
membalas pada cengkerik yang membawa bunyi kerinduan,
"Semoga Allah menyayangimu yang menyayangiku keranaNya.."
+Karena aku inginkan kau menjadi isteri solehah,
kerana Allah aku mohon keredhaanNya,
aku berdoa agar kau ke syurga,
melalui pintu mana yang kau kehendaki,
isteri yang taat,
Allah jaminkan syurga untuknya.
InsyaAllah.
ashraf adrutdin,
ku sangka bidadari, turun dari syurga (coco),
11.20 pagi, 23 hb ,12 ,2011
di mana aku melalui hidup di antara tujuh petala langit dan bumi Al-Wali ini?,
seandainya aku telah pergi menghadap sang pencipta alam,
bagaimana bisa aku mewarkah karya ini?
awak berjanji dengan saya untuk menunaikan solat berjemaah, - mana janji-janji awak?
awak berjanji mengajarkan saya bacaan al-quran dan bersama - sama memahami isi ertinya kalam Allah itu, - mana janji-janji awak?
awak berjanji mendidik dan membimbing saya menjadi isteri solehah, dan juga pada anak-anak,- mana janji-janji awak?
air hujan menitis membasahi pusaraku yang kegersangan..hatiku terpaut pada keindahan berbumbungkan langit dan liang lahad,
kembalilah ke fitrah manusiawi,
laksanakan perintahNya dengan penuh keimanan di jiwa, bukan hanya di raut wajah,
karena keikhlasan tidak dibaca pada putihnya wajahmu, tetapi bersihnya hati yang disinari ilmu dan amalan muliamu disisi Al-Wali,
ku tinggalkan kau dengan ilmu agama yang cukup,
agar kau dapat menongkah arus berseorangan tanpaku,
sia-sia Allah pulangkan nyawa kau tika subuh menjelang, kau masih dilitupi kulit babi pendinding kesejukan pagi.
Lalu si suami berkata di dada langit: "seandainya kau mengintai langit,
jangan lupa melambai pada rembulan,
agar kerinduanmu sampai padaku sampai menusuk jiwaku,
karena kita mengintai cinta yang sama,
pada bintang, kilauan cahayamu itu ku pinjam untuk menyinari hidupmu,
dari pilu,
sampaikan sayangmu pada mentari,
agar esok hari ku bangun,
ku titip cahayanya untuk sinari hari ku yang kelam tanpamu di sisi,
aku rindu pada ke[ayu]anmu..
Si isteri lalu menjawab,
membalas pada cengkerik yang membawa bunyi kerinduan,
"Semoga Allah menyayangimu yang menyayangiku keranaNya.."
+Karena aku inginkan kau menjadi isteri solehah,
kerana Allah aku mohon keredhaanNya,
aku berdoa agar kau ke syurga,
melalui pintu mana yang kau kehendaki,
isteri yang taat,
Allah jaminkan syurga untuknya.
InsyaAllah.
ashraf adrutdin,
ku sangka bidadari, turun dari syurga (coco),
11.20 pagi, 23 hb ,12 ,2011
Sabtu, 17 Disember 2011
aku, kau | I, U [ayu]
hidup ini padang ujian,
menyusuri lorong-lorong kelam kegetiran,
tiba peluru itu muncul laju, padu, bertubi-tubi!,
mampukah engkau merentasi dan mengelakkannya sahabat?
ku mainkan piano itu,
kau petik gitar menyanyi lelagu rindu,
suaramu menyanyikan irama senandung jiwa,
hatimu resah dalam diam engkau merindu ku.
kau dan aku - seirama, melihat bebintang di angkasa raya,
cinta dan rindu - bertaut ketat bersanggul rapi,
sedang engkau menampar diriku jauh dari lamunan asmaraku.
Air mata deras mengalir dari takungmu,
ku pohon maaf darimu sayang,
biar ku hapus titik titik hitam dari laramu,
suara halusmu berdesir ke telingaku,
kau paut wajahmu pada bahuku,
nyanyikan lelagu rindu itu,
bibir mu - ke[ayu]anmu memukau,
mataku - terpanah sukmaku,
ku jatuh padamu.
***
Hipokrasimu tak selari dengan keperibadianmu,
usah lagi kau bazirkan kucupan mu pada tiap teriakkan cinta mu,
ratu airmata,
sudah kita lalui terowong masa itu bersama,
dan kau meneropong masa cerah kita bersama,
+subhanallah! kau memaksa jejarimu menulis sajak ini sambil memandu,
Oh! Aku hampir kemalangan sayang.
+lihat itu! api menyala-nyala di matamu si ratu air mata,
kau menyuruhku bertanya pada diriku sendiri..diri..diri..diri..diri..diri..
Seandai engkau mampu memutar waktu, masih engkau menyimpan separuh janji? masih engkau simpan separuh hati?
ashraf adrutdin
10.34 mlm sabtu 18/12/2011
menyusuri lorong-lorong kelam kegetiran,
tiba peluru itu muncul laju, padu, bertubi-tubi!,
mampukah engkau merentasi dan mengelakkannya sahabat?
ku mainkan piano itu,
kau petik gitar menyanyi lelagu rindu,
suaramu menyanyikan irama senandung jiwa,
hatimu resah dalam diam engkau merindu ku.
kau dan aku - seirama, melihat bebintang di angkasa raya,
cinta dan rindu - bertaut ketat bersanggul rapi,
sedang engkau menampar diriku jauh dari lamunan asmaraku.
Air mata deras mengalir dari takungmu,
ku pohon maaf darimu sayang,
biar ku hapus titik titik hitam dari laramu,
suara halusmu berdesir ke telingaku,
kau paut wajahmu pada bahuku,
nyanyikan lelagu rindu itu,
bibir mu - ke[ayu]anmu memukau,
mataku - terpanah sukmaku,
ku jatuh padamu.
***
Hipokrasimu tak selari dengan keperibadianmu,
usah lagi kau bazirkan kucupan mu pada tiap teriakkan cinta mu,
ratu airmata,
sudah kita lalui terowong masa itu bersama,
dan kau meneropong masa cerah kita bersama,
+subhanallah! kau memaksa jejarimu menulis sajak ini sambil memandu,
Oh! Aku hampir kemalangan sayang.
+lihat itu! api menyala-nyala di matamu si ratu air mata,
kau menyuruhku bertanya pada diriku sendiri..diri..diri..diri..diri..diri..
Seandai engkau mampu memutar waktu, masih engkau menyimpan separuh janji? masih engkau simpan separuh hati?
ashraf adrutdin
10.34 mlm sabtu 18/12/2011
Selasa, 13 Disember 2011
Musnah | hidup semula
siapa yang sangka,
andai suatu masa diri ini musnah,
telah lama ku nanti nanti kan saat ini datang,
saat ku tahu sang izrael telah datang untuk menjemputku saat sakaratulmaut.
Lama telah aku fikirkan beberapa perkara yang telah pun terjadi dalam hidup aku sejak kebelakangan ini,
di mana suatu masa, kerjaya ku akan musnah,
aku akan dibuang kerja,
(oh, tapi itu masih belum lagi terjadi),
anak-anak ku,
apakah nasib mereka menanggung derita tanpa diriku,
dan isteriku, apakah kesetiaan antara kami masih tersanggul rapi dan ketat seperti hari-hari pertama kita bersama, sayangku.
Luka di hati rupanya masih belum terjahit rapi,
cinta yang di cari rupanya musnah di depan mata begitu sahaja,
semacam abu kertas kuning sami Budha di kuil-kuil itu.
As-kunu.
Kau telah pun pergi dari diri ini, dari hati ini.
Tahukah kalian siapa dia As-kunu yang kusebut-sebut ini?
Dia terlalu indah untuk diungkap,
Bahasa arab ia bermaksud "tinggal",
Bahasa Melayu ia tiada di dalam kamus dewan edisi ke-empat.
eh, kau ingat aku ni bergurau ke?
ingat aku suka 'loyar buruk' macam kau ke?
biar ku mati, biar ku mati, bila - bila masa.
Pernah tak terfikir nabi muhammad sallahualaihiwasalam kita punya isteri jauh lebih tua dari baginda?
ada kawan bagitahu,
dalam perhubungan, ego harus ditolak ketepi,
sabar kena banyak,
pengorbanan harus lebih banyak lagi,
kena ingat satu perkara, bahawa pasangan kita adalah pelengkap kita,
niat kita kena baik,
Insya Allah, akan dipermudahkan, - Zul Sa'ari.
Ini semua dugaannya,
di luarnya tenang tapi Tuhan saja tahu.
ashraf adrutdin & zul sa'ari (seorang sahabat & juga abang),
- sambil mendengar lagu Hujan (dugaanNYA),
13 hb disember 2011 (Hari lahir seseorang yang istimewa dalam hidup, teristimewa),
10.26 pagi yang damai, sangat damai.
andai suatu masa diri ini musnah,
telah lama ku nanti nanti kan saat ini datang,
saat ku tahu sang izrael telah datang untuk menjemputku saat sakaratulmaut.
Lama telah aku fikirkan beberapa perkara yang telah pun terjadi dalam hidup aku sejak kebelakangan ini,
di mana suatu masa, kerjaya ku akan musnah,
aku akan dibuang kerja,
(oh, tapi itu masih belum lagi terjadi),
anak-anak ku,
apakah nasib mereka menanggung derita tanpa diriku,
dan isteriku, apakah kesetiaan antara kami masih tersanggul rapi dan ketat seperti hari-hari pertama kita bersama, sayangku.
Luka di hati rupanya masih belum terjahit rapi,
cinta yang di cari rupanya musnah di depan mata begitu sahaja,
semacam abu kertas kuning sami Budha di kuil-kuil itu.
As-kunu.
Kau telah pun pergi dari diri ini, dari hati ini.
Tahukah kalian siapa dia As-kunu yang kusebut-sebut ini?
Dia terlalu indah untuk diungkap,
Bahasa arab ia bermaksud "tinggal",
Bahasa Melayu ia tiada di dalam kamus dewan edisi ke-empat.
eh, kau ingat aku ni bergurau ke?
ingat aku suka 'loyar buruk' macam kau ke?
biar ku mati, biar ku mati, bila - bila masa.
Pernah tak terfikir nabi muhammad sallahualaihiwasalam kita punya isteri jauh lebih tua dari baginda?
ada kawan bagitahu,
dalam perhubungan, ego harus ditolak ketepi,
sabar kena banyak,
pengorbanan harus lebih banyak lagi,
kena ingat satu perkara, bahawa pasangan kita adalah pelengkap kita,
niat kita kena baik,
Insya Allah, akan dipermudahkan, - Zul Sa'ari.
Ini semua dugaannya,
di luarnya tenang tapi Tuhan saja tahu.
ashraf adrutdin & zul sa'ari (seorang sahabat & juga abang),
- sambil mendengar lagu Hujan (dugaanNYA),
13 hb disember 2011 (Hari lahir seseorang yang istimewa dalam hidup, teristimewa),
10.26 pagi yang damai, sangat damai.
Ahad, 11 Disember 2011
sajak empat muka | seperti anak kucing | as kunu
empat puluh lima minit itu lama bukan?
apa yang kau dapat dengan
meminum susu ibu mu itu?
anak kucing itu berkata:
"aku mencari - cari puting susu ibuku,
merasai manisnya susu itu,
mengalir dari tekakku terus ke
perut kosongku"
"aku berlari, melompat, meniarap, menonggeng,
mencari puting susu ibuku,
riang, indah, lapar dan dahaga,
bercampur baur dalam hatiku"
Bagai menunggu kasihku datang,
di mana kah dia?
sudah tiba masa untukku,
menelan ubat OCD ku,
bertajuk "clomipramine".
Andai aku tidak dapat,
menelefon kekasihku.
aku bingung, empat puluh lima minit itu,
lama bukan?
masa ku terbuang melihat,
anak kucing itu menyusu puting ibunya.
As kunu, di mana kau as kunu?
aku merindui kau as kunu...
datanglah padaku as kunu...
i,i,i, k,l, asli? selepas asli - keaslian,
mana ask? l,m - tiada perkataan as kunu
di dalam kamus dewan bahasa edisi ke-empat.
aku menyelak kamus sambil
menelefon kekasihku as kunu..
di mana kau as kunu? as..kunu..as..kunu..
asma - aku sakit asma, lelah,
asmara - cinta kasih sayang,
asmaradana - bercumbu - cumbuan,
ASN - kep amanah saham nasional,
asnad - cari sendiri,
asnaf - golongan berhak menerima zakat,
Tidak! OCD aku menggila,
tanganku tidak berhenti menulis,
sebelah lagi mendail nombor as kunu..
tersilap dail, ah!
ini bukan no as kunu!
Asonasi - pengulangan bunyi vokal dalam deretan kata spt secupak dan sesukat, atau pokok dan tokoh.
di dalam minda ku,
asyik berkumandang lagu sheila on 7 - "ku petik bintang, untuk kau simpan, cahayanya terang"..
tiada lagu itu dalam simpananku..lama aku mencari..yang hanya ada lagu ini: "tunggulah aku, di jakartamu..tempat pelabuhan semua mimpiku.."
"aku pun sempat janjikan, ku kayuh semua janji ku..dan kau pun selalu janjikan, u (tidak sempat salin, ku patah balik semula lagi itu)..untuk menunggu ku datang, bersatu kembali seperti dulu..dan bila aku pun rindu.. (lagi sekali, terpaksa berhenti dan patah balik main lagu itu)..padanya hanya untukku pada hangatnya tawamu,,ku dengarkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan, sambil ku ingat indah wajahmu..woohoo..wohoo,..wohoo..."
Izinkan aku mencuba lagi,
mendail lagi nombor as kunu,
as kunu..as kunu..angkatlah sayang..
Tidak! aku tak akan berhenti,
sehingga as kunu,
mengangkat henfonnya.
Hingga mendengar dari corong sebelah sana,
"assalamualaikum awk?"
"waalaikumsalam - as kunu ke?"
"bukan, dia dah meninggal"
"subhanallah"
ashraf adrutdin,
jam 12.20pagi,
terlambat empat puluh lima minit menelefon as kunu..
12/12/2011
apa yang kau dapat dengan
meminum susu ibu mu itu?
anak kucing itu berkata:
"aku mencari - cari puting susu ibuku,
merasai manisnya susu itu,
mengalir dari tekakku terus ke
perut kosongku"
"aku berlari, melompat, meniarap, menonggeng,
mencari puting susu ibuku,
riang, indah, lapar dan dahaga,
bercampur baur dalam hatiku"
Bagai menunggu kasihku datang,
di mana kah dia?
sudah tiba masa untukku,
menelan ubat OCD ku,
bertajuk "clomipramine".
Andai aku tidak dapat,
menelefon kekasihku.
aku bingung, empat puluh lima minit itu,
lama bukan?
masa ku terbuang melihat,
anak kucing itu menyusu puting ibunya.
As kunu, di mana kau as kunu?
aku merindui kau as kunu...
datanglah padaku as kunu...
i,i,i, k,l, asli? selepas asli - keaslian,
mana ask? l,m - tiada perkataan as kunu
di dalam kamus dewan bahasa edisi ke-empat.
aku menyelak kamus sambil
menelefon kekasihku as kunu..
di mana kau as kunu? as..kunu..as..kunu..
asma - aku sakit asma, lelah,
asmara - cinta kasih sayang,
asmaradana - bercumbu - cumbuan,
ASN - kep amanah saham nasional,
asnad - cari sendiri,
asnaf - golongan berhak menerima zakat,
Tidak! OCD aku menggila,
tanganku tidak berhenti menulis,
sebelah lagi mendail nombor as kunu..
tersilap dail, ah!
ini bukan no as kunu!
Asonasi - pengulangan bunyi vokal dalam deretan kata spt secupak dan sesukat, atau pokok dan tokoh.
di dalam minda ku,
asyik berkumandang lagu sheila on 7 - "ku petik bintang, untuk kau simpan, cahayanya terang"..
tiada lagu itu dalam simpananku..lama aku mencari..yang hanya ada lagu ini: "tunggulah aku, di jakartamu..tempat pelabuhan semua mimpiku.."
"aku pun sempat janjikan, ku kayuh semua janji ku..dan kau pun selalu janjikan, u (tidak sempat salin, ku patah balik semula lagi itu)..untuk menunggu ku datang, bersatu kembali seperti dulu..dan bila aku pun rindu.. (lagi sekali, terpaksa berhenti dan patah balik main lagu itu)..padanya hanya untukku pada hangatnya tawamu,,ku dengarkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan, sambil ku ingat indah wajahmu..woohoo..wohoo,..wohoo..."
Izinkan aku mencuba lagi,
mendail lagi nombor as kunu,
as kunu..as kunu..angkatlah sayang..
Tidak! aku tak akan berhenti,
sehingga as kunu,
mengangkat henfonnya.
Hingga mendengar dari corong sebelah sana,
"assalamualaikum awk?"
"waalaikumsalam - as kunu ke?"
"bukan, dia dah meninggal"
"subhanallah"
jam 12.20pagi,
terlambat empat puluh lima minit menelefon as kunu..
12/12/2011
Selasa, 6 Disember 2011
Fitnah
fitnah
aku difitnah dengan tuduhan yang tidak berasas,
berfoya-foya dengan gadis tidak kukenali,
tahukah kamu bahawa pemfitnah tidak bau syurga,
tuduhan ini sangat berat untuk kutangggung.
cukup,
jangan dusta lagi,
ayah tidak pernah mengajar untuk menabur fitnah kepada orang lain,
apa entah untuk menconteng arang ke muka sendiri,
ayah tidak pernah mengajar untuk kamu mempercayai fitnah.
Kusut,
belum pernah aku difitnah seumur hidup,
ini kali yang pertama,
aku jua berharap ini kali terakhir,
inilah rencah dunia yang harus ku kunyah,
dan harus ku ludahi ke muka pemfitnah,
maaf andai bahasa ku ini kesat.
Ayah seorang guru,
Ibu seorang kerani,
Ayah meninggalkan aku harta diwarisi,
Ibu meninggalkan ilmu berguna, quran kukhatam, jawi ku fasih,
Apa lagi yang tidak cukup?
Biarkan aku sendiri,
mengenangkan perbuatan orang,
kata nendaku, "biarlah orang buat kita, jangan kita buat orang"
Jangan gangguku lagi,
Andai ini harga perlu kubayar untuk mendapatkan cinta suci,
Aku tidak rela maruah ku digadai.
aku difitnah,
ashraf adrutdin,
jam 0915 malam,
hari pertama kursus ASM.
6hb disember 2011
aku difitnah dengan tuduhan yang tidak berasas,
berfoya-foya dengan gadis tidak kukenali,
tahukah kamu bahawa pemfitnah tidak bau syurga,
tuduhan ini sangat berat untuk kutangggung.
cukup,
jangan dusta lagi,
ayah tidak pernah mengajar untuk menabur fitnah kepada orang lain,
apa entah untuk menconteng arang ke muka sendiri,
ayah tidak pernah mengajar untuk kamu mempercayai fitnah.
Kusut,
belum pernah aku difitnah seumur hidup,
ini kali yang pertama,
aku jua berharap ini kali terakhir,
inilah rencah dunia yang harus ku kunyah,
dan harus ku ludahi ke muka pemfitnah,
maaf andai bahasa ku ini kesat.
Ayah seorang guru,
Ibu seorang kerani,
Ayah meninggalkan aku harta diwarisi,
Ibu meninggalkan ilmu berguna, quran kukhatam, jawi ku fasih,
Apa lagi yang tidak cukup?
Biarkan aku sendiri,
mengenangkan perbuatan orang,
kata nendaku, "biarlah orang buat kita, jangan kita buat orang"
Jangan gangguku lagi,
Andai ini harga perlu kubayar untuk mendapatkan cinta suci,
Aku tidak rela maruah ku digadai.
aku difitnah,
ashraf adrutdin,
jam 0915 malam,
hari pertama kursus ASM.
6hb disember 2011
Selasa, 29 November 2011
gurindam si anak kecil
comel sungguh anak kecil ini,
dia tidak ngerti apa-apa kesusahan,
gelak tawa menyelaputi segala,
tiada air mata dan keperitan.
wahai ibu, wahai ayah,
usahlah kau ragut kebebasannya,
coraklah anakmu dengan pelangi gemilang,
bukan kekusaman.
kelak pabila dewasa,
dia jadi ilmuwan berguna,
kuat pegangan islam,
liat mempertahankan kebenaran,
sangguli kejahatan seketat-ketatnya.
Anak comel,
kau tidak ngerti apa-apa,
turutilah ayah dan bondamu,
karena,
mereka sang pencorak pelangi terbaikmu!
ashraf adrutdin,
subang intan,
jam 0319
29/11/2011
dia tidak ngerti apa-apa kesusahan,
gelak tawa menyelaputi segala,
tiada air mata dan keperitan.
wahai ibu, wahai ayah,
usahlah kau ragut kebebasannya,
coraklah anakmu dengan pelangi gemilang,
bukan kekusaman.
kelak pabila dewasa,
dia jadi ilmuwan berguna,
kuat pegangan islam,
liat mempertahankan kebenaran,
sangguli kejahatan seketat-ketatnya.
Anak comel,
kau tidak ngerti apa-apa,
turutilah ayah dan bondamu,
karena,
mereka sang pencorak pelangi terbaikmu!
ashraf adrutdin,
subang intan,
jam 0319
29/11/2011
Rabu, 7 September 2011
Lebih
Lebih
Haruskah aku berputus asa,
Dan berpatah arang,
Dalam mengecapi nikmat duniawi.
Tahukah kalian apa yang aku maksudkan dengan nikmat duniawi?
Cinta, rindu, benci dan dendam.
Bercampur gaul, sebati bagai perapan rempah temurun.
Ada kalanya,
Lebih mulia jika aku tidur, dalam ketenangan,
Berbanding jika aku berjaga dalam kesulitan,
Mengenang keperitannya mencari resepi duniawi.
Mungkin lebih baik jika dihukum pentingkn diri,
Andai itu lebih mudah daripada mempertahankan kebaikan yang disalahertikan.
Aku lebih gemar berdiam diri,
Daripada berkata yang meninggalkan luka yang mendalam.
Aku lebih cinta menulis,
Daripada berkata yang tidak masuk akal.
Aku lebih mahu meninggalkan kesan mendalam,
Daripada menghunus pedang yang tumpul.
Aku lebih rela berbaring andai sakit belakangku kembali,
Daripada aku berdiri dalam kekuatan.
Aku lebih suka menyendiri,
Daripada berkerumun dalam gelak tawa yang mencemburukan.
Aku lebih suka musim hujan,
Agar aku berasa malas dan lebih senang tidur,
Daripada aku pergi mencari cinta, rindu, benci dan dendam.
Ini nukilan diriku,
Siapa yang berani bertanya?
Siapa yang berani menghukum?
Biarlah saja Al-Wali yang menilainya.
Ashraf Adrutdin,
RRIM Sg Buloh,
Hujan lebat – menambah semangatku.
7/9/2011 jam 2 suku petang.
Rabu, 3 Ogos 2011
Ilham
Ilham daripada Al-Wali,
datang engkau pada beranya malam,
tampak rencam,
aku harus gesit menggapainya,
sebelum ia kembali ke Baharullah.
ashraf adrutdin,
malam ramadhan 3 1432H (3/8/2011),
jam 3.19 pagi
datang engkau pada beranya malam,
tampak rencam,
aku harus gesit menggapainya,
sebelum ia kembali ke Baharullah.
ashraf adrutdin,
malam ramadhan 3 1432H (3/8/2011),
jam 3.19 pagi
Isnin, 25 Julai 2011
Nyawa ganti nyawa
Nyawa ganti nyawa
dalam tatkala kita lemah melawan kematian,
rupanya insan lain yang gesit dilewati izrail.
dalam tatkala kita bertawakkal menghadapi kesakitan,
rupanya insan lain yang berpasrah menghidu kecelakaan.
dalam kita berdoa pada Al-Wali memohon umur yang panjang,
rupanya kita terlupa yang insan lain telah tercatat di Luh Mahfuz.
kita bertelanjang keluar dari rahim,
ke barzakh kita berselimut putih.
yang musnah hanya jasad kita dari pandangan,
sedang roh tidak 'kan mati di sisi Tuhan.
"Aku berdoa abah yang sakit tidak pergi dulu,
rupanya kakak yang sihat pergi mengganti abah".
Dalam doa anak berkata : "Allah ambillah nyawaku, sebagai ganti, jangan engkau cabut nyawa orang yang kukasihi".
dari alam ketiga singgah menuju alam keempat,
alam ketujuh destinasi terakhir untuk berehat.
Kata abah: "Tak sangka nak, kau pergi dulu sebelum aku".
cemburu abah, anaknya pergi dahulu.
Dalam Yasin kami merinduimu,
Tadah tangan menyebut namamu,
Tiap sujud terbayang wajahmu,
Beranya malam bangun menangisimu.
Al-fatihahku,
tanda solidariti pemergianmu.
ashraf adrutdin,
subang intan,
25/7/2011, jam 2.10pagi.
dalam tatkala kita lemah melawan kematian,
rupanya insan lain yang gesit dilewati izrail.
dalam tatkala kita bertawakkal menghadapi kesakitan,
rupanya insan lain yang berpasrah menghidu kecelakaan.
dalam kita berdoa pada Al-Wali memohon umur yang panjang,
rupanya kita terlupa yang insan lain telah tercatat di Luh Mahfuz.
kita bertelanjang keluar dari rahim,
ke barzakh kita berselimut putih.
yang musnah hanya jasad kita dari pandangan,
sedang roh tidak 'kan mati di sisi Tuhan.
"Aku berdoa abah yang sakit tidak pergi dulu,
rupanya kakak yang sihat pergi mengganti abah".
Dalam doa anak berkata : "Allah ambillah nyawaku, sebagai ganti, jangan engkau cabut nyawa orang yang kukasihi".
dari alam ketiga singgah menuju alam keempat,
alam ketujuh destinasi terakhir untuk berehat.
Kata abah: "Tak sangka nak, kau pergi dulu sebelum aku".
cemburu abah, anaknya pergi dahulu.
Dalam Yasin kami merinduimu,
Tadah tangan menyebut namamu,
Tiap sujud terbayang wajahmu,
Beranya malam bangun menangisimu.
Al-fatihahku,
tanda solidariti pemergianmu.
ashraf adrutdin,
subang intan,
25/7/2011, jam 2.10pagi.
Selasa, 28 Jun 2011
jerawat
Jerawat
Ah! Tangan ini semakin gatal,
mengopek, mengorek, memicit dan menyelet,
jerawat di wajah dusta ini.
Ah! Jerawat ini, semakin macet semakin lazat,
bersit jerawat yang mengkal, lalu tiris darah kotor dari wajah sebal ini.
waktu jeda sebegini, memang gesit tangan ini - waktu kesepian melanda hati yang kelam.
Kitarannya hampir sama setiap hari, bulan dan tahun,
Andaian dengan mengopek, mengorek, memicit dan menyelet,
jerawat di muka pada hari ini,
esok 'kan pasti lega, bersih, dan hilang jerawat di muka,
pasti kelegaan itu pantas tercapai,
hubaya-hubaya hasrat di hati ini, termakbul jua,
rupanya tidak kejap naluri jiwa - manusia mana bisa puas.
Arahan syaitan atau nafsukah?
Kelazatan engkau mengopek, mengorek, memicit dan menyelet jerawat dari wajah - wajah itu?
Lazat dan sakit hari ini,
mengundang sejuta kebejatan esoknya,
tangan - tangan itulah yang merosakkan raut wajah itu - tangan - tangan itulah yang disoalnya lusa.
Orang tua-tua berkata: ikut hati mati, ikut nafsu lesu, ikut jiwa binasa,
siapa pula anak muda yang nak mati ini?
siapa pula anak muda yang nak lesu ini?
siapa pula anak muda yang nak binasa ini?
orang tua berdarah muda atau orang muda berdarah tua?
Orang tua-tua berkata: jerawat di muka usah dipicit, nanti berlubang, tak molek dipandang,
makin dilarang, makin sedap dibuat.
Kadang sedap, kadang perit,
luka jerawat boleh sembuh,
tetapi parut pasti 'kan kekal.
Lihat pada kuku,
masih sisakah darah itu?
+nafsu, keserakahan, penipuan, kuasa, kezaliman, - ibarat candu, ibarat nasi.
ashraf adrutdin,
subang intan,
dua puluh sembilan haribulan enam, dua ribu sebelas,
jam dua belas, sembilan menit malam.
Ah! Tangan ini semakin gatal,
mengopek, mengorek, memicit dan menyelet,
jerawat di wajah dusta ini.
Ah! Jerawat ini, semakin macet semakin lazat,
bersit jerawat yang mengkal, lalu tiris darah kotor dari wajah sebal ini.
waktu jeda sebegini, memang gesit tangan ini - waktu kesepian melanda hati yang kelam.
Kitarannya hampir sama setiap hari, bulan dan tahun,
Andaian dengan mengopek, mengorek, memicit dan menyelet,
jerawat di muka pada hari ini,
esok 'kan pasti lega, bersih, dan hilang jerawat di muka,
pasti kelegaan itu pantas tercapai,
hubaya-hubaya hasrat di hati ini, termakbul jua,
rupanya tidak kejap naluri jiwa - manusia mana bisa puas.
Arahan syaitan atau nafsukah?
Kelazatan engkau mengopek, mengorek, memicit dan menyelet jerawat dari wajah - wajah itu?
Lazat dan sakit hari ini,
mengundang sejuta kebejatan esoknya,
tangan - tangan itulah yang merosakkan raut wajah itu - tangan - tangan itulah yang disoalnya lusa.
Orang tua-tua berkata: ikut hati mati, ikut nafsu lesu, ikut jiwa binasa,
siapa pula anak muda yang nak mati ini?
siapa pula anak muda yang nak lesu ini?
siapa pula anak muda yang nak binasa ini?
orang tua berdarah muda atau orang muda berdarah tua?
Orang tua-tua berkata: jerawat di muka usah dipicit, nanti berlubang, tak molek dipandang,
makin dilarang, makin sedap dibuat.
Kadang sedap, kadang perit,
luka jerawat boleh sembuh,
tetapi parut pasti 'kan kekal.
Lihat pada kuku,
masih sisakah darah itu?
+nafsu, keserakahan, penipuan, kuasa, kezaliman, - ibarat candu, ibarat nasi.
ashraf adrutdin,
subang intan,
dua puluh sembilan haribulan enam, dua ribu sebelas,
jam dua belas, sembilan menit malam.
Ahad, 15 Mei 2011
Penantian
Penantian
Aku tidak tahu Ya Allah,
semakin hari semakin menebal,
dosaku bergelumang dengan serakah.
Aku pasti,
mahuku usaikan penantianku ini.
Aku nantikan srikandi kirana yang kental,
untuk diriku Ya Al - Wali,
biar tatkala sukmaku disisinya,
membakar retrospeksi wahamku,
yang sekian dasawarsa lamanya membunuhku.
Maafkan kerana menodai cinta cauvinismemu,
Apakah aku dilahirkan untuk merosakkan wanita - wanita ini?
Pada malam bera sebegini,
apa lagi yang harus aku lakukan?
Pada siapa harus aku mengadu?
jasad siapa harus aku peluk?
Aku gelisah,
aku rindu,
aku pilu,
aku sepi,
aku..aku..aku..
Tidak seperti mereka..mereka..mereka,
pastinya diari ini,
akan menjadi peninggalan jemariku,
untuk tatapan anak - rasku.
Ah, betapa cuainya usia mudaku,
tatkala Faisal menulis tentang 'Ingin menjadi Nasrallah',
aku rupanya masih bergelumang dengan dosaku sendiri,
saat Guan Eng berpidato mengenai 'kebebasan Malaysia' daripada tirani ISA,
aku masih lagi terjajah dengan mental berlenggu personaliti,
waktu mereka sibuk bersiponggang gerakan orientalisme, kristianisasi dan freemasonary,
aku berkukik-kukik lugu menjadi narator lelucon peribadi manusia bersama rasnya.
Aku rupanya tertidur dalam kemelankolian,
aku mememarkan sukmaku sendiri dalam hanyutan nafsu,
kitabullah aku lemparkan ketepi,
sejadah aku gantungkan tinggi,
Ah! Aku semakin jauh dariMU Al-Wali,
Saatku tidak tahu, rupanya ENGKAU lebih dekat daripada denyut nadiku sendiri.
Tidak sanggupku menantikan saat pikunku meraba dalam beranya malam,
Saat cicitku lebih matang sukmanya,
Ah, sungguh luar biasa sekali kelowongan sukmaku kini,
Lihat! Maghrib berlalu menghampiri Isyak,
Panjangnya hingga ke subuh,
Aku masih menanti kucupan romantik berahi srikandi kiranaku.
ashraf adrutdin,
15/5/2011
Aku tidak tahu Ya Allah,
semakin hari semakin menebal,
dosaku bergelumang dengan serakah.
Aku pasti,
mahuku usaikan penantianku ini.
Aku nantikan srikandi kirana yang kental,
untuk diriku Ya Al - Wali,
biar tatkala sukmaku disisinya,
membakar retrospeksi wahamku,
yang sekian dasawarsa lamanya membunuhku.
Maafkan kerana menodai cinta cauvinismemu,
Apakah aku dilahirkan untuk merosakkan wanita - wanita ini?
Pada malam bera sebegini,
apa lagi yang harus aku lakukan?
Pada siapa harus aku mengadu?
jasad siapa harus aku peluk?
Aku gelisah,
aku rindu,
aku pilu,
aku sepi,
aku..aku..aku..
Tidak seperti mereka..mereka..mereka,
pastinya diari ini,
akan menjadi peninggalan jemariku,
untuk tatapan anak - rasku.
Ah, betapa cuainya usia mudaku,
tatkala Faisal menulis tentang 'Ingin menjadi Nasrallah',
aku rupanya masih bergelumang dengan dosaku sendiri,
saat Guan Eng berpidato mengenai 'kebebasan Malaysia' daripada tirani ISA,
aku masih lagi terjajah dengan mental berlenggu personaliti,
waktu mereka sibuk bersiponggang gerakan orientalisme, kristianisasi dan freemasonary,
aku berkukik-kukik lugu menjadi narator lelucon peribadi manusia bersama rasnya.
Aku rupanya tertidur dalam kemelankolian,
aku mememarkan sukmaku sendiri dalam hanyutan nafsu,
kitabullah aku lemparkan ketepi,
sejadah aku gantungkan tinggi,
Ah! Aku semakin jauh dariMU Al-Wali,
Saatku tidak tahu, rupanya ENGKAU lebih dekat daripada denyut nadiku sendiri.
Tidak sanggupku menantikan saat pikunku meraba dalam beranya malam,
Saat cicitku lebih matang sukmanya,
Ah, sungguh luar biasa sekali kelowongan sukmaku kini,
Lihat! Maghrib berlalu menghampiri Isyak,
Panjangnya hingga ke subuh,
Aku masih menanti kucupan romantik berahi srikandi kiranaku.
ashraf adrutdin,
15/5/2011
Ahad, 24 April 2011
Dosa semalam
Dosa semalam
Dosa semalam,
membelengguku,
membelit diriku kian sesak dan hancur,
biarkan aku,
Tuhan,
ambillah nyawaku,
dari aku terus melakukan kebejatan pada jiwa-jiwa yang tidak berdosa,
jika itu yang baik buatku.
Tetapi,
takkan harus aku berputus asa,
aku kan punya impian besar, murni, dan suci?
Aku punya cita-cita yang belum dibereskan,
hutang yang belum dilangsaikan,
amanah yang belum ditunaikan.
Aku inginkan anak-anakku mewarisi cita-citaku,
dan tidak mengulangi segala kebejatan lampauku.
Mampukah mereka,
menerima amanahku nanti?
Mampukah mereka,
menyusuri segala sikap, sifat burukku yang mungkin mereka turut mewarisinya dariku?
Anak-anak Ashraf, cucu-cucu Adrutdin dan Khatijah,
mampukah kamu semua teguh berdiri,
dan tidak mengulangi dosa-dosa semalam ayahandamu?
Jawablah sebaiknya, agak aku dapat menghembuskan nafasku dengan tenang dan tenteram.
Agak sang Izrael mencabut nyawaku dengan lembut.
Jika puisiku ini menjadi wasiat buat dirimu, anak-anakku,
Jagailah agamamu, bangsamu, dan bahasamu.
Aku mungkin tidak meninggalkan harta beribu,
Tetapi aku harap tidak meninggalkan kalian dengan hutang-hutangku,
Hanya meninggalkan kalian dengan amanah ini.
Bangun dari lena,
Luahkan kebenaran,
Bisu adalah lebih mulia,
Mendengar dan memberi lebih baik,
Jauhi introversi - jadilah pemimpin bermasyarakat,
Hindari kanibalisme - fitnah sesama masyarakat,
Dekati ulama' dan bersahabatlah dengan alkitab,
Dan jangan kau lupa pada Al-Wali, Tuhan sekalian alam.
Dosa menjadikan kita berkaru,
gawal.
Jangan engkau hanya berselendangkan agama,
tetapi baliknya engkau punya hati yang bangar,
bangar dengan dosa - dosa.
Usah kau ulangi lagi dosa-dosa ayahmu,
waima apapun.
ashraf adrutdin,
jam 5.34 petang,
24/4/2011
Hujan telah berhenti - selari dengan ideaku.
Dosa semalam,
membelengguku,
membelit diriku kian sesak dan hancur,
biarkan aku,
Tuhan,
ambillah nyawaku,
dari aku terus melakukan kebejatan pada jiwa-jiwa yang tidak berdosa,
jika itu yang baik buatku.
Tetapi,
takkan harus aku berputus asa,
aku kan punya impian besar, murni, dan suci?
Aku punya cita-cita yang belum dibereskan,
hutang yang belum dilangsaikan,
amanah yang belum ditunaikan.
Aku inginkan anak-anakku mewarisi cita-citaku,
dan tidak mengulangi segala kebejatan lampauku.
Mampukah mereka,
menerima amanahku nanti?
Mampukah mereka,
menyusuri segala sikap, sifat burukku yang mungkin mereka turut mewarisinya dariku?
Anak-anak Ashraf, cucu-cucu Adrutdin dan Khatijah,
mampukah kamu semua teguh berdiri,
dan tidak mengulangi dosa-dosa semalam ayahandamu?
Jawablah sebaiknya, agak aku dapat menghembuskan nafasku dengan tenang dan tenteram.
Agak sang Izrael mencabut nyawaku dengan lembut.
Jika puisiku ini menjadi wasiat buat dirimu, anak-anakku,
Jagailah agamamu, bangsamu, dan bahasamu.
Aku mungkin tidak meninggalkan harta beribu,
Tetapi aku harap tidak meninggalkan kalian dengan hutang-hutangku,
Hanya meninggalkan kalian dengan amanah ini.
Bangun dari lena,
Luahkan kebenaran,
Bisu adalah lebih mulia,
Mendengar dan memberi lebih baik,
Jauhi introversi - jadilah pemimpin bermasyarakat,
Hindari kanibalisme - fitnah sesama masyarakat,
Dekati ulama' dan bersahabatlah dengan alkitab,
Dan jangan kau lupa pada Al-Wali, Tuhan sekalian alam.
Dosa menjadikan kita berkaru,
gawal.
Jangan engkau hanya berselendangkan agama,
tetapi baliknya engkau punya hati yang bangar,
bangar dengan dosa - dosa.
Usah kau ulangi lagi dosa-dosa ayahmu,
waima apapun.
ashraf adrutdin,
jam 5.34 petang,
24/4/2011
Hujan telah berhenti - selari dengan ideaku.
Khamis, 17 Mac 2011
Roh
Saat aku menghembuskan nafasku,
Bersama kepulan asap ke udara,
Aku melihat batangnya semakin hancur, berdebu dan akhirnya jatuh berderai menjadi sisa sisa abu..
Semakin laju aku menyedutnya,
semakin byk asapnya,
dan semakin pantas ia bertukar menjadi abu, jatuh berderai ke tanah.
Hidup aku kini umpama begitu,
Semakin laju aku berlari,
Berlari mengejar diriku,
Semakin ia menghilang,
Kabur dari pandanganku,
Sunyi derapan langkahnya,
Hilang baunya,
Tidak mungkin dapat dirasainya.
Jasadku kaku,
Ke mana hilangnya rohku?
Masih lagi berterbangan bersama mimpi mimpi impian maknawinya?
Atau sebenarnya sudah tidak ingin lagi bertemu kembali jasadnya,
Mencium pun tidak mahu,
Apatah lagi mahu memandangnya,
Merasakan tubuhnya,
Mendengarkan degupan jantungnya.
Aku hilang rohku,
Aku hilang semangatku,
Aku hilang panasnya hati yang membara seperti dahulu,
Aku hilang cita-cita menggunungku,
Aku hilang impian maknawi,
Aku hilang segalanya.
Bagaimana kau mahu mengoncang dunia,
Seandainya tangan yang kasar itu pun berat untuk diangkatnya?
Apa lagi yang aku cari di bumi Al-Wali ini?
Ashraf adrutdin,
17 mac 2010,
Jam 2.42 pagi
Belmont Marco Polo, Tawau
Bersama kepulan asap ke udara,
Aku melihat batangnya semakin hancur, berdebu dan akhirnya jatuh berderai menjadi sisa sisa abu..
Semakin laju aku menyedutnya,
semakin byk asapnya,
dan semakin pantas ia bertukar menjadi abu, jatuh berderai ke tanah.
Hidup aku kini umpama begitu,
Semakin laju aku berlari,
Berlari mengejar diriku,
Semakin ia menghilang,
Kabur dari pandanganku,
Sunyi derapan langkahnya,
Hilang baunya,
Tidak mungkin dapat dirasainya.
Jasadku kaku,
Ke mana hilangnya rohku?
Masih lagi berterbangan bersama mimpi mimpi impian maknawinya?
Atau sebenarnya sudah tidak ingin lagi bertemu kembali jasadnya,
Mencium pun tidak mahu,
Apatah lagi mahu memandangnya,
Merasakan tubuhnya,
Mendengarkan degupan jantungnya.
Aku hilang rohku,
Aku hilang semangatku,
Aku hilang panasnya hati yang membara seperti dahulu,
Aku hilang cita-cita menggunungku,
Aku hilang impian maknawi,
Aku hilang segalanya.
Bagaimana kau mahu mengoncang dunia,
Seandainya tangan yang kasar itu pun berat untuk diangkatnya?
Apa lagi yang aku cari di bumi Al-Wali ini?
Ashraf adrutdin,
17 mac 2010,
Jam 2.42 pagi
Belmont Marco Polo, Tawau
Ahad, 13 Mac 2011
bisikan hakaik (hakikat)
Oh ibu,
Engkau menjilat tubuhku yang kesejukan itu,
Agar aku berasa suam dan selesa.
Oh ibu,
Engkau menjilat kemaluanku yang kotor itu,
Agar aku berasa bersih dan sempurna.
Oh ibu,
Engkau berikan susumu dari putingmu itu,
Agar segala khasiat dan kasih sayang itu mengalir ke dalam tubuhku.
Oh ibu,
Hanya dengan baumu sahaja yang membuatkanku menyakini,
Bahawa hanya pada engkau aku mengiau,
Dan engkau ‘kan mengiau kembali kepadaku,
Dengan kalimah manja,
Bahawa aku kan selamat bersama ibuku.
Oh ibu,
Daripada engkau akan ku belajar,
Bahawa dunia ini hanya tumpangan sementara,
Agar aku sentiasa bersabar,
Bertasbih,
Bermunajat,
Bertawakal,
Kepada Sang Pencipta,
Yang Esa, tiada yang layak disembah melainkan Engkau Al-Wali,
Yang memberikan aku erti,
Kasih dan sayang,
Sesama aku dan manusia.
Akukan menjaga keturunanku kelak,
Pabila aku dewasa dan juga punya keluarga seperti sekarang,
Hanya aku, adik – adikku, dan ibuku.
Kan ku pelihara mereka,
Agar menjaga tatasusila kehaiwanan dan keimanan,
Agar tidak menjadi seperti kaum manusia,
Ashraf adrutdin,
13/3/2010,
Jam 09.51 malam
Sabtu, 12 Mac 2011
Erang
Erang
Aku di sini kawan,
Berbekalkan tuala buruk untukku mandi dan berselimut,
Menghilangkan keringat dan gigitan semut.
Di dalam mimpiku,
Aku terlihat 5 pintu,
Mana satu arah tujuku?
Benarkah bintang itu 5 bucunya?
Aku seolah merasakan diriku tidak merasa puas.
Aku tiada daya untuk bangun pada waktu pagi,
Mengapa aku begini?
Malam-malamku diganggu bisikan-bisikan,
Bayangan-bayangan yang membuatkan aku terfikir,
Dan berfikir sehingga tidak ku sedar akan masa yang berlalu.
Alasan untuk cuti lagi hari ini?
Aku tidak cukup dengan 24 jam sehari,
Aku perlukan lebih lagi,
Agar aku mampu berkarya,
Dan berkarya,
Berkhayal,
Bermanja,
Bermunajat,
Belajar,
Berlatih,
Baiki kesilapan lalu.
Terkadang aku merasakan aku perlukan ibuku di sini,
Menemaniku di sini,
Agar aku sentiasa selamat,
Kerana aku merasakan aku sebagai anak kucing,
Yang inginkan puting ibunya dan dakapan suam bulu lebatnya,
Jilatan mesra kasih sayang.
Ah!
Aku tidak sehebat A. Samad Said idolaku itu,
Mahupun mawar shafie yang ku jumpa di ukm dahulu,
Tidak juga sedikit dari Faisal tehrani dan Siti jasmina Ibrahim.
Mungkin aku tidak perlu sebegitu,
Abstrak alternatif sebegini yang ku cari-cari.
Jika aku mampu menghabiskan sebuah buku satu malam,
Aku dapat 365 ilham dari 365 buah buku yang aku baca,
Telah aku katakan,
24 jam sehari tidak cukup bagiku,
Untuk aku berkarya,
Berkhayal,
Bermanja,
Bermunajat,
Belajar,
Berlatih,
Baiki kesilapan lalu.
Gawal, gawal, gawal, gawal, gawal.
ashraf adrutdin
12/3/2010
jam 10.01 malam
Ahad, 26 Disember 2010
Di hari persandinganmu
Di hari persandinganmu
Segalanya musnah,
Batinku menjerit padamu,
Namun tiada resah.
Aku cemburu,
Kugagahkan jiwaku,
Memetik wajah-wajah manismu,
Di hari persandinganmu,
Dengan putera hati pilihanmu.
Selamat tinggal cinta pertamaku,
Selamat kau di bawah hamparan Al-Wali
Selamat berbahagia hingga ke anak cucu,
Selamat kau hingga ke syurga firdausi.
ikhlas,
Ashraf Adrutdin,
26/12/2010
jam 8.51 mlm.
Khamis, 30 September 2010
Sungai Kota Tinggi
Aku melihat sebatang sungai dari jendela kaca tingkat 2 Hotel Sri Kota ini. Aku menggaru-garu di muka dan lengan, “Mana datang nyamuk ni? Semalam tak ada pun?” geram, semakin banyak tempat di tubuh ku yang semakin gatal.
“Apa nama Sungai ni ya? Lupa.”
“Adila, apa nama sungai depan hotel ni?” aku kirim SMS pada staf ku.
E72ku berbunyi. “Hah, SMS!”
Adila: Kota la.
Hm, aku merengus tak puas hati: Sg. Kota atau Kota Tinggi?
Tak sampai seminit Adila terus membalas SMS: Kota Tinggi.
“Thanks”, sekadar ku menjawab dalam hati.
Sungai Kota Tinggi
Berlatar belakang Yuna di laptop; ‘Gadis Semasa’,
Merenung jauh pada sebatang sungai yang tampak tenang jiwanya,
Agak rencam dek kegelapan malam,
Hanya lentera tiang dan terpampang sebuah papan tanda berlampu: ‘Firefly Crip’,
Dan lawannya titisan halus hujan yang membasahi tar dan segala bumbung di sini.
Kala melepaskan lelah seharian bekerja di sini,
di Kota Tinggi ini,
Aku menggaru lengan yang berbintat,
gigitan nyamuk yang kelaparan,
Seperti jiwa ku juga yang kelaparan,
Sebal.
Tiga bintat sudah kelihatan di lipatan lengan,
Nanar.
Konsentrasi terganggu,
Usai membaca Faisal; ‘Tuhan Manusia’,
Giliran ‘Katerina’ Ahadiat menyusul.
Bintat tiga masih terasa,
Macet, mencemberut.
Pergilah kamu nyamuk, janganlah menganggu,
Asap Dunhill dah ku hembus,
Tak usah datang lagi,
Aku cuma mahu menikmati Sungai Kota Tinggi.
Ashraf adrutdin
9.00pm / 29 September 2010
Hotel Sri Kota – berhadapan Sungai Kota Tinggi nan tenang.
Langgan:
Catatan (Atom)
